info berita

Tuesday, May 28, 2013

Ketika Gubernur Curhat Tentang Bendera Kepada Duta Besar RI

Ketika Gubernur Curhat Tentang Bendera Kepada Duta Besar RI Untuk Sudan Sujatmiko, "Ini Aceh Pak, Banyak Masalahnya, Padahal Bendera Alam Peudeung Usulan Saya, Tapi DPRA Mengubahnya Ke Bendera Bulan Bintang "

“ Bendera Aceh yang sebelumnya dia kenal adalah yang di depannya ada pedang (‘alam peudueng), “Saya senang dengan bendera yang seperti itu, yang ada pedangnya, Tapi, DPR Aceh sebagai representasi rakyat Aceh telah menetapkan bendera yang berbeda. Zaini mengaku tetap harus mendukungnya. ” ujar Zaini Abdullah Sambil sambil menunjuk ke lukisan Bendera Alam Peudeung di dinding ruang pertemuan Dengan Dubes RI Untuk Sudan.

Banda Aceh - Siang kemarin sekitar pukul 14.30 WIB, hawa dingin ruang utama Pendapa Gubernur Aceh, begitu menusuk. Embusan air conditioner (AC) di beberapa sudut ruangan ‘membekukan’ kulit. Seorang pria merebahkan bahunya di atas sofa empuk, sambil menarik napas panjang. “Inilah Aceh. Banyak masalahnya, Pak,” kata pria itu kepada seorang lelaki di samping kanannya.

Pria itu adalah dr Zaini Abdullah. Ia berbicara kepada lelaki di sampingnya, Sujatmiko, Duta Besar RI untuk Sudan.

Kemarin, Sujatmiko menemui Zaini selaku Gubernur Aceh. Mereka berdua bertemu di pendapa. Sejumlah pejabat dan kepala dinas ikut hadir. Kedatangan Sujatmiko menemui orang nomor satu di Aceh itu semula lebih untuk bersilaturahmi. Ia ingin mempromosikan Aceh ke Sudan, negara berpenduduk 42 juta jiwa itu.

“Kalau Aceh sering disebut Serambi Mekkah. Tapi kalau di Sudan Serambi Mekkah-nya adalah Afrika,” kata Sujatmiko.

Pembicaraan keduanya terus mengalir. Suasana pertemuan mencair. Obrolan mereka makin intens. Tidak saja membicarakan soal isu kopi Aceh, kayu cedana, dan nilam yang bakal diperkenalkan Sujatmiko ke Sudan. Tapi mulai “menyerempet” ke isu politik. Zaini Abdullah juga dikenal sebagai mantan menteri Luar Negeri GAM. Ia lahir di Beureunun, Kabupaten Pidie, pada 24 April 1940 silam. Sekarang usianya sudah 73 tahun.

Sekitar tahun 1981 Zaini hijrah ke luar negeri saat Pemerintah RI menggelar operasi militer di Aceh. Ia mengasingkan diri ke Stockholm, Swedia, bersama deklarator GAM Hasan Tiro. Tahun 2012 ia kembali ke Aceh bersama Hasan Tiro (alm), setelah Aceh berdamai dengan RI. Ia pun diusung njadi calon gubernur dari kalangan GAM dan menang.

“Sebernarnya saya tak mau lagi (dicalonkan). Sejak tahun 76 saya sudah berjuang. Tapi karena mengingat ini amanah, saya harus meluruskannya,” kata Zaini.

“Saya di sini bukan gubernur. Tapi anggap saya ini sebagai orang yang dituakan. Saya lebih tua dari Mendagri. Jadi tolong, tolong dengarkan saya,” cerita Zaini.

“Di Menkopolhukam mereka lebih lunak, meski mereka militer. Tapi di Kemendagri mereka lebih (keras),” banding Zaini. Ia juga mengungkapkan bendera Aceh yang sebelumnya dia kenal adalah yang di depannya ada pedang (‘alam peudueng).

“Saya senang dengan bendera yang seperti itu, yang ada pedangnya,” ujarnya sambil menunjuk ke lukisan di dinding ruang pertemuan.

Tapi, DPR Aceh sebagai representasi rakyat Aceh telah menetapkan bendera yang berbeda. Zaini mengaku mendukungnya. Hanya saja pemerintah pusat yang tidak memahaminya. Padahal, kata Zaini, soal bendera menjadi kewenangan penuh rakyat Aceh.

“Betapa besar sumbangan Aceh kepada RI sejak Soekarno. Tapi feedback-nya apa, selalu dicurigai. Sebetulnya saya ingin bicara dari hati ke hati. Aceh bukan lagi separatis, sudah dalam NKRI,” tutur Zaini.

“Tapi kenapa Pak tidak top down saja. Misalkan, bicara ke Presiden dulu, lalu nanti kan ada garis komandonya,” saran Sujatmiko. “Itu sudah kita lakukan,” jawab Zaini.

Tapi tampaknya Zaini belum puas dengan kebijakan SBY. Sementara dia berharap semua persoalan Aceh bisa diselesaikan pada masa Pemerintah SBY. “Kalau SBY tak ada lagi, akan muncul persoalan baru. Dan kita akan bertengkar lagi,” jelas Zaini. Mendengar itu, Sujatmiko hanya terdiam.