info berita

Showing posts with label aceh. Show all posts
Showing posts with label aceh. Show all posts

Saturday, January 2, 2016

PELEMPARAN BUS ACEH DI MEDAN, 1 BAYI MENINGGAL DUNIA

Sopir Bus : Wahai Polda Aceh Ini Yang Kalian Cari Pelakunya, Jangan Asyik Klaim DPO Din Minimi Cs, Buktikan Nyalimu !
Sopir Bus: Kami Cari Polisi, Polisi Cari Duit ! Akibat Pelemparan 1 Bayi Meninggal Dunia
Jaring besi untuk melindungi kaca depan dan sopir dari lemparan batu. Namun tak cukup halus untuk menghalau peluru senapan angin.
MEDAN - Aksi pelemparan batu dan penembakan bis antarkota antarprovinsi di sepanjang Kecamatan Tanjung Pura, Gebang dan Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara, semakin meningkat. Anehnya, polisi seperti tak berbuat apa-apa untuk menindak pelaku kejahatan itu. Akibat pelemparan bus, beberapa waktu lalu, seorang bayi tewas. Kemarin malam, aksi pelemparan semakin meningkat. Tak puas hanya dengan ketapel, mereka kini beralih ke senapan angin.
Seorang sopir yang tak mau disebutkan nama dan tempat usahanya mengaku tak berdaya melawan aksi kelompok itu. Menurut dia, polisi sebenarnya bisa saja menangkap mereka karena pelakunya orang yang itu-itu saja. Sopir enggan berurusan dengan polisi karena proses yang lama namun tak meredakan aksi pelemparan dan penembakan itu. Untuk setiap pelaporan, kata dia, sopir harus memberi jumlah uang bervariasi. Ini jelas memberatkan sopir.
"Kami cari polisi, polisi cari duit," kata seorang sopir
Linda, manajer operasional PT Putra Pelangi, mengungkapkan seorang sopir mereka terkena serpihan kaca yang menyobek pelipis kanan. Sebulan kemudian, setelah sembuh, si sopir nahas itu kembali terkena serpihan kaca saat melintasi kawasan Gebang. Bak sopir kendaraan F-1, beberapa sopir memilih menggunakan helm saat melintasi daerah itu. Ini menyebabkan mereka semakin sulit melihat, karena jarak pandang terhalang jaring besi yang terpasang di kaca bagian depan bus.
"Kemarin, empat bus kami (Putra Pelangi) ditembak dan diketapel sehingga rusak. Bus lain yang melintas malam itu juga rusak," kata Linda. Sama seperti diutarakan sopir, mereka mengaku kapok berurusan dengan polisi karena tidak pernah ada penyelesaian. Beberapa pelaku ditangkap kemudian dilepaskan lagi karena dilindungi oleh oknum polisi berpangkat lebih tinggi.
"Beberapa jam setelah ditangkap, orang yang melempar dilepaskan karena saudaranya polisi juga," kata Linda. Pernah, kata Linda, seorang sopir cedera oleh lemparan batu dan membuatnya pingsan saat mengemudi. Kendaraan itu lantas menabrak rumah warga di dekat lokasi pelemparan. Bukannya membantu korban, bus itu dijarah. Perusahan juga dipaksa mengganti kerugian akibat tabrakan itu.
"Kami nggak tahu mau bagaimana lagi," kata Linda. Pantauan AJNN, operator bus dan para sopir tetap menjalankan armada mereka. Mereka memilih menanggung risiko ketimbang tak bisa membawa pulang uang untuk keluarga mereka.

Enam Tuntutan Rasional Kelompok Bersenjata Din Minimi Kepada BIN

LHOKSEUMAWE - Dalam konferensi pers yang diadakan di Hotel Lido Graha, Lhokseumawe, Aceh, Selasa (29/12/2015), Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) Sutiyoso menyebutkan kelompok bersenjata Din Minimi dalam penyerahan dirinya mempunyai beberapa tuntutan.
Tuntutan tersebut dirasa masuk akal oleh Kepala BIN Sutiyoso. "Saya rasa tuntutannya rasional, misalnya yang pertama Din Minimi minta Reintegrasi sesuai perjanjian di Helsinksi dilanjutkan. Yang kedua, minta agar anak yatim piatu terutama keluarga Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dipelihara. Yang ketiga minta para inoeng bale (janda GAM) diperhatikan kesejahteraannya, ini tentu nanti akan menjadi urusan Pemerintah Daerah dan Departemen Sosial (Depsos)," ujar Sutiyoso.
"Yang keempat dia minta agar nanti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa turun ke Pemerintahan Daerah. Yang kelima usulannya agar dalam Pilkada 2017 ada peninjau independen. Yang terakhir minta amnesti untuk Din Minimi dan seluruh anggota kelompoknya yang berjumlah 120 di lapangan dan 30 yang telah dipenjarakan", lanjut Sutiyoso.
Keenam tuntutan tersebut dirasa wajar dan tidak ada masalah. Namun sekali lagi pihak BIN menyatakan semua tuntutan tersebut perlu proses dan waktu dalam pengupayaannya. *

Pemimpin kelompok bersenjata di Aceh, Nurdin Ismail alias Din Minimi meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kasus tindak pidana korupsi di Provinsi Aceh. Permintaan itu disampaikannya saat bertemu dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso untuk bernegosiasi perhentian perlawanan terhadap pemerintah Indonesia.
Menanggapi hal itu, Ketua KPK Agus Rahadjo merespon positif permintaan tersebut. Dia mengatakan, bahwa pihaknya siap turun tangan mengusut dugaan kasus korupsi yang ada di Tanah Rencong itu.
"Kalau memang di sana butuh perhatian ekstra (mengungkap kasus korupsi), ya kami akan turun," ujar Agus di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta
Ada beberapa tuntutan yang dimereka sampaikan sebagai syarat menyerahkan diri. Salah satunya meminta agar KPK mengusut kasus tindak pidana korupsi di Aceh. Selain itu Din Minimi meminta agar dibentuk tim pengawas independen untuk Pemilu Serentak di Aceh pada 2017 mendatang.

Thursday, June 5, 2014

Gubernur Aceh Zaini Abdullah Secara Resmi Dukung Capres Cawapres No. Urut 2 Jokowi-Jusuf Kalla

BANDA ACEH - Dokter Zaini Abdullah yang kini menjabat Gubernur Aceh menyatakan, secara pribadi ia mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sebagai calon Presiden RI periode 2014-2019.

Pernyataan itu disampaikan dr Zaini Abdullah melalui telepon dari Stockholm, Swedia, sekitar pukul 13.40 WIB, Rabu (4/6) kemarin.

Gubernur Zaini bersama rombongan masih berada di Swedia dalam rangka lawatannya ke luar negeri menggalang kerja sama pengembangan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan pariwisata di Aceh.

Zaini juga mengemukakan alasannya mendukung pasangan Jokowi-JK. Alasan pertama, Jusuf Kalla adalah arsitek sekaligus figur yang paling berjasa dalam terwujudnya perdamaian Aceh tahun 2005 di Helsinki.

Alasan kedua, hanya Jusuf Kalla-lah yang dapat diharap dan dipercaya rakyat Aceh bisa mempercepat realisasi dari butir-butir MoU Helsinki maupun turunan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang tinggal sedikit lagi belum terealisasi pada masa kepemimpinan SBY-Boediono.

Gaya Jokowi yang sederhana dan merakyat sesuai pula dengan budaya rakyat Aceh. Apalagi Jokowi pernah bekerja di Aceh dan tentu lebih mengerti Aceh. “Kita harapkan masyarakat Aceh tahu memposisikan diri dalam menentukan pilihannya pada Pilpreskali ini,” kata Zaini.

Anggota Tuha Peuet Partai Aceh (PA) ini juga menambahkan, meskipun Muzakir Manaf menyatakan secara pribadi mendukung Prabowo-Hatta sebagai calon presiden, tapi secara kepartaian Muzakir dia harapkan tidak membuat klaim seperti itu.

Di mata Zaini, PA itu merupakan sebuah partai besar dan memiliki pendukung yang sangat banyak di Aceh. Personel pengurusnya juga ramai. Oleh karenanya, dalam membuat sebuah komitmen atau pemihakan politik terhadap kandidat presiden/wakil presiden, tidak seharusnya dilakukan di luar mekanisme kepartaian.
“Dalam sebuah partai besar, pernyataan dukungan tidak boleh dilakukan hanya oleh satu orang saja, sekalipun ia elite partai. Keputusan politik sepenting dan sestrategis itu harusnya diambil melalui musyawarah bersama sebagaimana diatur dalam AD/ART partai,” kata Zaini.
Atas dasar itu, ia sarankan agar Mualem--panggilan akrab Muzakir Manaf--selaku Ketua Umum DPA PA segera menggelar musyawarah besar (mubes) atau apa pun namanya yang dari forum itu nanti akan dicapai konsensus bersama tentang pasangan capres/cawapres mana yang didukung PA pada Pilprestahun ini.

Azmi Ketua Barisan Pendukung Partai Aceh : Mualem Harus Jujur Dan Diminta Pertanggungjawabkan Dana Rp. 50 miliar dari Partai Gerindra

BANDA ACEH - Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA) Muzakir Manaf diminta mempertanggungjawabkan uang yang telah diterima dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang dipimpin calon presiden nomor Prabowo Subianto Rp50 miliar.

"Mualem atau Muzakir Manaf harus mempertanggungjawabkan uang itu. Kalau masalah ada terima atau tidak, Muzakir Manaf harus membuktikannya," ketua Ketua Barisan Pendukung Partai Aceh Azmi kepada wartawan dalam Konferensi Pers di Banda Aceh, Rabu (4/6/2014)

Selain itu, Mualem juga diminta untuk mempertanggungjawabkan keputusannya yang tidak sesuai dengan mekanisme Partai Aceh dalam hal berkoalisi dengan Partai Gerindra untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai presiden.

"Belum ada keputusan resmi dari partai untuk menentukan arah koalisi. Yang terjadi saat ini adalah keputusan pribadi untuk mendukung Prabowo," ungkap dia.

Azmi juga meminta kepada Muzakir Manaf atau yang sering sisapa Mualem untuk mempertanggungjawabkan tindakannya dalam melakukan pemecatan terhadap petinggi Partai Aceh.

"Kami menduga pemecatan dilakukan oleh Mualem karena masalah pribadi, dan selalu menilai pengkhianat kepada pengurus Partai Aceh ketika melakukan kritikan kepada Mualem," imbuhnya.

Apabila tuntutan ini tidak dijalankan, Azmi mendesak Muzakir Manaf untuk mundur sebagai Ketua Umum Partai Aceh.

"Tuha Peut Partai Aceh yang merupakan pimpinan tertinggi harus segera mengambil sikap terhadap permasalahan ini secara arif dan bijaksana," harapnya. 

Tiba Di Aceh, Pemain Timnas U-19 Di Sambut Tarian Ranup Lampuan Di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda

* Pemain Timnas U 19 Akan Menginap Di Hotel Mekkah ( Depan RSUZA Banda Aceh)

Banda Aceh - Pemain Timnas U-19 Tiba di Aceh via Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang. Kedatangan pasukan Garuda Jaya tersebut ke Aceh dalam rangka Tur Nusantara Jilid II.

Kedatangan mereka turut disambut oleh Agam-Inong (Duta Wisata) Aceh di Sultan Iskandar Muda Airport. Mereka tiba di Bandara sekitar pukul 16.00 WIB.

Melalui akun twitter Timnas U-19, menuliskan, Skuad Timnas U-19 selamat datang di Serambi Mekkah.

Dalam rangkaian Tur Nusantara Timnas U-19 Jilid II tersebut, anak-anak asuhan pelatih Indra Sjafri itu dijadwalkan akan melakukan laga uji coba melawan timnas Aceh U 21.

Pertandingan uji coba Timnas U-19 versus U-21 Aceh ini akan berlangsung pada Jumat, 6 Juni 2014 pukul 20.00 WIB di Stadion Harapan Bangsa, Lhoong Raya, Banda Aceh Juga Live Di SCTV.

Berikut foto kedatangan pemain Timnas U-19 setibanya di Bandara Sultan Iskandar Muda yang disambut oleh Duta Wisata Aceh

Sunday, March 16, 2014

Paduka Yang Mulia Malik Mahmud Al-Haytar : Aceh Masih Berantakan Dan Belum Ada Investasi Besar Untuk Mengubah Nasib Aceh Yang Lebih baik


NAGAN RAYA – Wali Nangroe Paduka yang mulia Malik Mahmud Al-Haytar mengatakan pembagunan Aceh saat ini masih berantakan.

“Pembagunan Aceh saat ini masih berantakan di semua lini, baik insfrastruktur,pendidikan, kesehatan dan masih banyak lagi, dengan ini saya selaku Wali Nangroe mengajak masyarakt untuk membangun Aceh dengan kontek Islami,” katanya

Dengan itu, kita perlu melakukan terobosan dan atau perubahan secara fundamental yang dimulai dari bangku sekolah hingga ke Perguruan Tinggi. Dalam bahasa lain dia menyebutkan Aceh perlu melakukan revolusi pendidikan.

“Ada tiga tantangan besar ke depan dalam mengurangi kesenjangan sosial, ketidak-adilan ekonomi dan kesenjangan antar wilayah yang perlu segera kita carikan solusinya,” tambahnya.

Membangun Aceh kata dia harus secara utuh berbasiskan nila-nilai peradaban Aceh.

Kontras Aceh : Petinggi Partai Aceh Selaku Pimpinan Pemerintah Aceh Seharusnya Mengusut Tuntas Tragedi HAM "Rumoh Geudong "Oleh Kopassus , Bukan Malah Berkoalisi Dengan Mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto


Foto : Rumoh Geudong terletak di desa Billie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie,

Gilang Lestari " Seorang korban yang diperkosa dan payudaranya dipotong kini masih hidup di Aceh menjadi saksi Hidup atas kekejaman Pasukan Kopassus Saat Konflik Di Aceh Silam"

JAKARTA - Kasus pelanggaran HAM di Aceh belum tuntas. Tragedi Rumoh Geudong masih menyisakan duka. Pengungkapan kebenaran menjadi salah satu usaha untuk melawan lupa.

Rumoh Geudong yang terletak di desa Billie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie, menjadi saksi bisu keberingasan Kopassus di masa lalu. Pos Sattis atau yang lebih dikenal dengan Rumoh Geudong benar-benar telah menjadi ‘neraka’ bagi masyarakat Pidie.

Tak hanya melakukan penyiksaan sewenang-wenang, pasukan baret merah itu di masa lalu telah melakukan tindakan keji. Mereka juga melakukan pemerkosaan.

"Korban tragedi pemerkosaan Kopassus kini masih hidup. Seorang korban yang payudaranya dipotong kini masih hidup. Pelakunya jelas Kopassus yang ngepos di tempat tersebut," tegas KontraS Aceh Destika Gilang Lestari

Laporan Amnesty Internasional ini mendokumentasikan kegagalan otoritas nasional dan lokal untuk menghadirkan kebenaran terkait kasus HAM di Aceh.

Ia menyayangkan bahwa sejak perjanjian damai tidak ada satu kasus pun yang dibawa ke persidangan. Kegagalan untuk menghadirkan kebenaran telah berkontribusi pada suatu budaya impunitas bagi kejahatan HAM yang serius.

Thursday, March 13, 2014

Polres Langsa & Brimob Bebaskan WN Thailand yang Disandera Perompak Berbaju Satgas Partai Aceh & Bersenjata Api Di Langsa

Foto : Satgas PA Yang Di Tangkap Brimob Kompi Aramian & Polres Langsa

Langsa - Tim Gabungan Polres Langsa, Aceh berhasil membebaskan seorang warga negara Thailand yang disandera oleh kelompok perompak bersenjata berbaju Satgas PA di Kecamatan langsa, Kota Langsa. Petugas juga berhasil mengamankan 4 orang perompak beserta 1 pucuk senpi laras pendek jenis FN.

Operasi pembebasan itu berlangsung sekitar pukul 12.30 WIB, Senin (10/3/2014) saat tim gabungan Polres Langsa dan Brimob kompi Aramiah melakukan penyergapan di salah satu ruko lantai 2 milik EZ (42) di Desa Blang, Kecamatan Langsa Kota, Langsa. Korban bajak laut bersenjata itu bernama Sonjan Roungnam (48), seorang WN Thailand.

Sedangkan dari kelompok penculik yang berhasil ditangkap masing masing bernama SB (34) perompak, warga Desa Kuala Langsa, Langsa Barat, SY (28) perompak Desa Blang Baloh Kecamatan Peurelak Kota. Sedangkan AS (29) perompak Kuala Peunaga Kecamatan Bendahara Aceh Tamiang dan SF (32) mahasiswa asal Dusun Damai Alur dua Langsa Barat.

Kapolres Langsa, AKBP Hariadi menjelaskan, dari penyergapan itu selain membebaskan seorang sandera dan empat orang perompak, petugas juga berhasil mengamankan barang bukti senjata api milik pelaku.

“Ada 1 pucuk senpi pendek jenis FN, 1 pucuk GLM pelontar beserta 2 amunisi ,1 buah GPS kapal, 1 unit computer, radio, kompas dan tas ransel hitam isi baju,” kata Kapolres Langsa AKBP Hariadi kepada detikcom, Senin (10/3/2014).

Hariadi menambahkan, para pelaku melakukan perompakan laut pada tanggal 2 Maret 2014 di perairan Selat Malaka. Saat itu perompak bersenjata mengambil peralatan kapal yang sekarang sudah disita dari rumah SF dan menyandera nahkoda kapal, untuk meminta uang tebusan. Besaran uang tebusan yang diminta Rp 300 juta.

“Aksi pelaku sudah sangat meresahkan para awak kapal dan nelayan yang ada di Aceh maupun di luar aceh. Tim juga saat ini masih terus mengembangkan kasus ini,” ungkapnya

Monday, December 16, 2013

Keadilan Yang Kita Tuntut Saat Perjuangan GAM Dulu Sudah Tercapai, Jadi Peringatan Milad GAM Bukan Untuk Bangkitkan Perlawanan



Gubernur Aceh : Keadilan Yang Kita Tuntut Saat Perjuangan GAM Dulu Sudah Tercapai, Jadi Peringatan Milad GAM Bukan Untuk Bangkitkan Perlawanan


INDRAPURI - Ribuan masyarakat Aceh memadati makam tokoh deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk Muhammad Hasan Tiro di desa Meureu, Kecamatan Indra Puri, Kabupaten Aceh Besar memperingati hari puncak perayaan Milad GAM yang ke-37 tahun, Rabu (4/12).


Terlihat sejumlah tokoh dan elite pemerintah Aceh ikut dalam acara tersebut. Di antaranya ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Hasbi Abdullah serta Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Bupati Aceh Besar Mukhlis Basyah serta pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud.


Menurut dia, pemberontakan GAM pada tahun 1976 itu berlandaskan ketidakadilan antara Aceh dengan Pemerintah Pusat. Makanya, Hasan Tiro selaku deklarator pemberontakan GAM mendeklarasikan Aceh pisah dari Indonesia.


"Saat itu sangat pincang antara Aceh dan pusat. Terjadilah pemberontakan, 1976 Hasan Tiro tuntut kembali keadilan, bukan pemisahan diri, tetapi dituntut keadilan, dan keadilan yang dituntut itu sudah kita dapatkan sekarang," tegasnya.
Sumber : Fb. Kabar Aceh

Wednesday, November 6, 2013

Gubernur Aceh ; Aceh Siap Jadi Tuan Rumah PON 2020, Saya Sudah Usulkan Rekomendasinya Pada Pak SBY

Banda Aceh - Zaini Abdullah mengatakan dirinya telah mengusulkan kepada Presiden SBY, agar merekomendasikan Aceh sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2020 mendatang.

"Dulu ketika Pak SBY datang ke Aceh, kami sudah mengusulkan kepada beliau untuk mengusulkan Aceh tuan rumah PON 2020, dan kami berharap juga kepada Roy Suryo sebagai Menpora agar mau memberikan dukungan untuk Aceh," kata Zaini Abdullah pada acara Pelantikan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 2013 - 2016, Rabu (6/11) di Anjugan Mon Mata Banda Aceh.

Zaini Abdullah menjelaskan, saat ini sudah sangat siap menjadi tuan rumah event olah raga yang bertaraf nasional, yang diselenggarakan empat tahun sekali tersebut.
"Kalau kita sudah meminta kepada Presiden, berarti kita sudah siap menjadi tuan rumah, kita ingin membuktikan bahwa Aceh ini mampu dalam segala hal," jelas Zaini Abdullah.

Sementara itu Menteri Pemuda Dan Olah Raga (Menpora) Roy Suryo menyatakan dirnya sangat mendukung apabila Aceh ingin menjadi tuan rumah PON 2020 tersebut.
"Apa yang tidak mungkin, semua itu mungkin terjadi. Insya Allah Aceh bisa menjadi tuan Rumah.

Manajemen Tak Tepati Janji Rekrut Tenaga Kerja Lokal, Warga Blokir Jalan dan Hentikan Pembangunan PLTA Nagan Raya

Foto ; PLTA Nagan Raya

SUKA MAKMUE - Ratusan warga di Desa Krueng Isep, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya sejak Sabtu lalu hingga Selasa (2-5/11) kemarin dilaporkan melakukan aksi penghentian aktivitas pembangunan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah pedalaman ini. Aksi yang dilakukan oleh masyarakat tersebut diduga karena pihak perusahaan belum merealisasikan jajnjinya mempekerjakan warga lokal di perusahaan ini.

Kapolres Gunawan juga mengaku pihaknya sudah berupaya melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan guna memfasilitasi persoalan ini dengan masyarakat, dengan harapan persoalan tersebut bisa secepatnya tuntas. Namun hingga sekarang pihak perusahaan belum memberikan respons terhadap hal ini.

Bahkan informasi yang diterima aparat kepolisian di wilayah ini, kasus pemblokiran tersebut baru akan berakhir setelah pimpinan perusahaan yang melakukan pembangunan PLTA menjumpai warga, sekaligus merealisasikan janjinya. “Masalahnya diduga akibat soal janji yang belum direalisasikan kepada warga oleh pihak perusahaan,” katanya.

Terhadap persoalan ini, pihaknya juga sudah menempatkan personel polisi di sekitar lokasi pemblokiran guna menghindari adanya hal-hal yang tak diinginkan, pungkas Kapolres Nagan Raya AKBP Gunawan Eko Susilo.

Kepala Dinas Pertambangan Energi Kabupaten Nagan Raya
“Yang saya dengar ada janji yang belum ditepati pihak perusahaan kepada warga,” katanya.

Wagub Aceh Muzakir Manaf : Bulan Bintang Tetap Bendera Aceh, Bagi Yang Mengibarkannya Itu Luapan Kegembiraan Rakyat Aceh


Banda Aceh - Bagi kita, Provinsi Aceh lain dengan provinsi lain. Ini juga semangat perdamaian MoU Helsinki. Bagi kita, bulan bintang dan singa buraq tetap merupakan bendera dan lambang Aceh, tandas Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf kepada wartawan.

Terkait adanya penolakan beberapa daerah pihak menurutnya, mereka yang menolak merupakan segelintir orang saja. Mereka bukan orang-orang Aceh, mereka di luar Aceh.

Tentang masyarakat dataran tinggi Gayo yang tetap menolak dan akan mendirikan provinsi sendiri bila tetap disahkannya lambang dan bendera bulan bintang, Mualem menyerahkan mereka itu untuk melaksanakan niatnya. Ditegaskan lagi, lambang dan bendera Aceh telah menjadi ketetapan rakyat melalui persetujuan mereka di DPRA.
Kembali Mualem mengatakan, Bendera Aceh Bulan Bintang dan Lambang Singa Buraq merupakan hasil perjuangan seluruh rakyat Aceh dulunya dalam menuntut kemerdekaan.

Itulah hasil perjuangan jatuhnya korban dalam menuntut kemerdekaan dulu. Jadi tidak ada yang negatif. Kalau kemudian masyarakat mengibarkannya, itu hal emosionil terkait perjuangan mereka dulunya pungkasnya.

Oknum Polisi Di Nagan Raya Keroyok Warga Hingga Kritis

Foto ; Ilustrasi Pengeroyokan Oleh Aparat

SUKA MAKMUE - Jasadi (55), warga Gampong Rambong Cut, Kecamatan Seunagan, Nagan Raya, dilaporkan menderita luka akibat dikeroyok oleh seorang oknum polisi berinisial Saf beserta abang kandungnya berinisial Sak.

Pria paruh baya tersebut terpaksa dilarikan ke IGD RSUD Nagan Raya di Ujong Fatihah, dan dirawat di ruang ICCU akibat luka yang dialaminya.

“Kami tidak terima dengan perlakuan ini, kami minta kasus ini diproses secara hukum,” kata Rahmad (22), yang tak lain adalah anak korban.

Dikatakannya, insiden yang menimpa ayahnya ini terjadi ketika ayahnya, Jasadi ini sedang duduk bersama sejumlah warga lainnya di Poskamling desa setempat. Namun tanpa diduga, datang pria Sak dan adiknya berinisial Saf yang merupakan anggota Polres Nagan Raya menghampiri korban dan terjadinya adu mulut.

Menurut Rahmad, antara ayahnya dan dua orang pelaku terjadi keributan sehingga sang ayah mengalami luka dan terpaksa dilarikan ke RS. Sedangkan pelaku langsung meninggalkan lokasi kejadian tanpa mempedulikan korban. “Saya tidak tahu apa masalahnya, namun yang jelas kami sekeluarga tak terima dengan perlakuan main hakim sendiri ini,” kata Rahmad.

Ia juga mengaku sudah membuat pengaduan ke Mapolres Nagan Raya, dengan harapan persoalan ini diusut secara tuntas sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan ayahnya kini masih dirawat intensif di ruang ICCU RSUD Nagan Raya, karena luka yang dialami ayahnya Jasadi tergolong parah.

Sementara itu, Kapolres Nagan Raya AKBP Gunawan Eko Susilo SIK melalui Kasat Reskrim Iptu Dedi Supriyatno yang dikonfirmasi Serambi, kemarin sore, mengaku belum mendapatkan informasi terhadap kejadian tersebut. Namun ia mengaku sedang melakukan penelusuran terhadap kasus tersebut, apalagi keluarga korban mengaku sudah membuat pengaduan di Mapolres Nagan Raya. “Keterangan sementara yang kita dapatkan dari anggota polisi Safrizal ini, dia tidak melakukan pemukulan atau pengeroyokan. Akan tetapi ia malah merelainya,” kata Iptu Dedi yang mengaku segera memeriksa kasus ini.

Posko PNA di Glumpang Tiga Dibakar OTK

Foto ; Posko PNA

Pidie- Posko Partai Nasional Aceh (PNA) yang terletak di Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, dibakar OTK pada Senin (4/11/2013) dinihari tadi sekitar pukul 2.00 WIB.

Menurut keterangan salah seorang aktivis PNA setempat, Razali, kejadian berawal dari suara ledakan yang mereka perkirakan bom molotov dari arah belakang posko.

Amatan AtjehLINK, posko ini berada dalam kawasan Warung “SinggahMulo” dan sebuah bengkel las. Kebakaran mengenai tumpukan karton, besi dan plastik bekas yang berada di belakang bengkel las tersebut.

Warung SinggahMulo diketahui selama ini memang terlihat ramai dengan warga dan simpatisan PNA. Bendera PNA menghiasi pagar warung tersebut yang letaknya di pinggir jalan raya Banda Aceh-Medan

Ashraf Khan :Aceh Seperti Kampung Saya Sendiri


Penuhi Undangan Bupati Bireuen Pada HUT Bireuen Ke - 14, Kesan Ashraf Khan (Penyanyi Asal Malaysia ) : Aceh Seperti Kampung Saya Sendiri

* Ashraf ke Bireuen tak lain untuk memeriahkan HUT Bireuen ke-14. Dia diundang secara khusus oleh Bupati Bireuen. Kedatangannya pun ditemani Fadia Arafiq, Wakil Bupati Pekalongan yang tak lain istrinya sendiri.

Foto : Ashraf Khan Dan Fadia Arafiq

Bireuen – Penyanyi asal Malaysia, Ashraf Khan yang tak lain menantu musisi kondang Arafiq mengaku Aceh sudah menjadi layaknya kampong kedua baginya. Walau baru dua kali bertandang ke Negeri Syariat ini, namun dirinya mengaku cukup nyaman bersosialisasi dengan masyarakat eks derah konflik ini.

“Saya tak asing lagi dengan Aceh. Ini yang kedua kali (Kunjungan ke Bireuen-Red) saya ke Aceh. Dulu saya pernah ke Subulussalam. Aceh bagi saya kental dengan nuansa islami,” ujar Ashraf dalam konferensi pers yang digelar di Pendopo Bupati Bireuen, Minggu (3/11/2013).

Di lain hal dia sangat berterimakasih kepada warga Bireuen. Selama berkunjung ke daerah tersebut, Ashraf mengaku mendaatkan sambutan yang sangat hangat. “Kemarin mencoba Mie Aceh pakai kepiting. Wah rasanya subhanaallah enak sekali. Saya jadi kepikir kalau lama saya disini badan saya akan tambah gemuk,” pungkasnya berseloroh.

Investor Enggan Ke Aceh Dan Kurangnya Optimalnya Penggunaan Dana Otsus, Tingkat Kemiskinan Aceh Berada Pada Urutan Ketiga Di Indonesia

Foto : Rumah Warga Fakir Miskin Di Aceh.

Banda Aceh - Masyarakat Aceh masih jauh dari kesejahteraan, sehingga data terakhir yang diperoleh pakar ekonomi menyebutkan bahwa kemiskinan Aceh masih berada di urutan ketiga. Namun secara keseluruhan Aceh masih tergolong ‘sakit’.

“Undang-undang telah mengatur tentang Migas dan Otsus. Aceh mendapatkan dana Otsus 2 persen dari DAU sejak tahun 2008 – 2022 dan 1 persen DAU dari tahun 2023 – 2028.

Bahkan 30 persen dari dana Migas untuk Pendidikan Aceh, sementara 70 persen untuk membiayai program dan kegiatan pembangunan Aceh. Demikian antara lain disampaikan, Dr Aliasuddin,SE.MSi, pakar ekonomi dari Universitas Syiah (Unsyiah) Darussalam – Banda Aceh ketika mengisi materi Sosialisasi Kebijakan Politik Pemerintah Aceh yang diselenggarakan oleh Badan Kesbangpol Linmas Provinsi Aceh di Aula Serbaguna Idi,

Menurutnya, penggunaan dana Migas dan Otsus sejak tahun 2008 belum sepenuhnya tepat sasaran. Padahal, lanjut Aliasuddin, dana Otsus digunakan antara lain untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengetasan kemiskinan, pendanaan pendidikan, sosial dan kesehatan serta digunakan juga untuk keistimewaan Aceh

Indonesia Tetapkan 9 Povinsi Tujuan Wisata Syariah, Namun Aceh Tak Termasuk Dari Daerah Wisata Syariah Tersebut


Foto : Wisatawan Asing Saat Berwisata Di Daerah Banda Aceh, Mesjid Raya Baiturrahman

JAKARTA - Indonesia menetapkan 9 destinasi wisata syariah, yakni Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Lombok, dan Makassar. Sementara Aceh yang menerapkan sistem Syariat Islam di wilayahnya tidak termasuk dalam destinasi wisata syariah tersebut.

"Ada sembilan wilayah yang kita tawarkan sebagai destinasi wisata Islam," kata Dirjen Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Esthy Reko Astuti di sela Forum Halal Global di Jakarta

Menurut dia, penetapan wilayah-wilayah tujuan wisata syariah tersebut dilakukan berdasarkan kesiapan sumber daya manusia, kultur masyarakat setempat, produk-produk wisata daerah, dan akomodasi wisata.

Penetapan destinasi wisata syariah tersebut, kata dia, merupakan persiapan menjelang peluncuran produk wisata syariah tahun 2014.

"Dengan promosi lebih aktif tentang wisata syariah, diharapkan kunjungan turis muslim bisa naik menjadi 20 persen sampai 25 persen pada 2014-2015," katanya.

Ia juga berharap Forum Halal Global bisa menjadi salah satu ajang sosialisasi produk wisata syariah Indonesia kepada para pelaku industri wisata, termasuk pelaku dari Malaysia dan Arab Saudi, yang hadir dalam forum tersebut

Sepenggal Kisah Pasukan Inong Balee : Nyanyianku Menjadi Deritaku

Sepenggal Kisah Pasukan Inong Balee : Nyanyianku Menjadi Deritaku

Foto : Kenangan Foto Inoeng Balee Masa Silam Di Aceh

.Hari ini, Jumat 01-11-2013, keberaniku sudah sangat bulat untuk menceritakan semua kisah-kisah yang telah ku alami selama ini. Walaupun dengan terbata-bata dan dengan jemari yang gemetar, aku coba juga menulis setiap pertanyaan yang datang dari Team PENA.

ACEH UTARA, akhir tahun 1999. Aku suka menyanyi, dan menyanyi adalah salah satu hobby yang sangat aku sukai. Dan ternyata hobbyku ini telah mengantarkanku kegerbang pertemuan dengan pejuang Aceh Merdeka. Dimana, sebelumnya aku sendiripun tidak mengerti apa yang mereka perjuangkan dan apa yang mereka inginkan.

Seorang Penasehat GAM (Gerakan Acheh Merdeka) Wilayah Pasee mendengar aku menyanyi, dan kemudian dia memberi kesempatakan kepadaku untuk menyanyikan lagu Perang Sabi pada sebuah dakwah GAM yang diadakan di Ulee Meuriya Geudong. Setelah itu aku diajak agar bergabung dengan Pasukan Inong Balee.

Disebabkan, kegiatan sekolah yang aku jalani pun dalam kondisi tak menentu, dan juga keadaan di kampong hura hara, maka dengan memberanikan diri, aku meminta izin dari ayah agar mengizinkanku bergabung dengan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM). Dengan renungan yang bangga, dan seperti tak menduga, ayahku menitiskan air mata dan mengatakan setujunya, permintaanku untuk bergabung dengan GAM.

Selama 2 (dua) bulan aku dilatih fisik secara intensif, termasuk menggunakan senjata. Dan, kemudian aku langsung diturunkan lapangan. Sejak saat itu, kehidupanku pun telah berubah, dari gadis gampong menjadi seorang figthter dari Pasukan Inong Balee. Dikarenakan aku seorang gadis luwes dan mudah bergaul, maka Panglima setempat menugaskan aku untuk jadi inteligen. Karena, kalau berperang juga mungkin sudah banyak tentara GAM yang lebih mampu dari aku.

Karena aku ditugaskan di kota, maka bisa leluasa berteman dengan banyak anggota TNI. Mereka sering datang ke rumahku untuk bertamu dan kadang sering aku suguhkan teh atau kopi. Dan, kucoba bertanya tentang pasukan mereka dan kekuatan mereka.

Selama 1 (satu) tahun lamanya aku melaksanakan tugas tersebut dan bisa mengumpulkan kurang lebih 573 butir peluru berbagai jenis. Tapi bak kata pepatah, sepandai pandai tupai melompat, pasti jatuh juga ke tanah. Itulah yang terjadi terhadapku, diakhir tahun 2002, tepatnya saat aku berada di Pos Yonif 141 Sriwijaya Palembang.

Disela-sela keheningan seorang Panglima berkata sesuatu kepadaku. “Adoe Nyoe Keuh Perjuangan, Gob laén Nyaweung- Nyaweung Hana Lee, Droe Keuh Syukur Manteung Udeep”. Tapi dia kan tidak tahu bagaimana dengan masa depanku, dan akupun tidak mau menceritakan panjang lebar, tentang kejadian di dalam sel tahanan itu.

Aku hanya menitiskan air mata dan berdoa kepada Allah SWT agar aku diberikan ketabahan untuk menghadapi semua apa yang telah terjadi terhadap diriku. Seperti yang Panglima katakana “ini adalah risiko perjuangan”, maka akupun tak menyesali apa yang telah terjadi terhadap diriku.

Mereka yang mengajak aku dulu bergabung dengan GAM kini telah menjadi Bupati dan ada yang sudah bekerja di DPRK. Mungkin mereka tidak mengenal diriku lagi, tapi aku masih tetap kenal dengan muka mereka sampai kapanpun. Sedih sekali hatiku melihat kehidupan Rakyat Aceh, yang dulu dijanjikan kebahagiaan kepada mereka.

Merekalah yang telah bersusah payah membekali kita waktu berada di hutan, merekalah yang ”theun tapak” (kenak sepak) disaat konvoi TNI datang menyisir gampong-gampong. Aku sendiri tak membutuhkan bantuan dari mereka yang semenjak dahulu bergabung dengan GAM. Karena aku masih kuat untuk berdikari. Tapi apa yang kuharapkan adalah agar mereka jangan lupa dengan rakyat yang sangat susah mencari sesuap nasi.

Kenapa mereka sudah lupa kepada saudara yang membantu mereka dikala mereka susah dahulu, kenapa mereka bisa menelantarkan anak-anak yatim dan janda yang sangat membutuhkan uluran dan bantuan dari mereka yang dulunya mengatas namakan perjuangan untuk rakyat. Kini setelah dapat pangkat dan jabatan, semuanya hilang arah, mereka seperti telah buta dan tuli dengan alam sekeliling mereka.

Terimakasih juga kepada Team PENA yang telah sudi meringankan beban di dada ini, luapan hati ini telah kalian dengarkan. Harapanku semoga PENA bisa mendengar jeritan bathin dari yang lain juga. Karena jeritan seperti ini lebih sakit kalau tak ada yang mau mendengarnya. Salam sukses untuk PENA dan Teamnya.

Salam
PUTROE MUDA
Pasukan Inong Balèe

Operasi Keamanan di Aceh Paling Sulit Yang Pernah Saya Hadapi Di Indonesia

Kapolres Bireuen: Operasi Keamanan di Aceh Paling Sulit Yang Pernah Saya Hadapi Di Indonesia

Foto : Kapolres Bireuen AKBP M Ali Khadafi S Ik Beserta Jajarannya

Bireuen – Kapolres Bireuen AKBP M Ali Khadafi S Ik berbagai cerita di depan Civitas Akademika Universitas Al-muslim Bireuen, Rabu (30/10/2013). Dalam pertemuan itu, Ali mengaku pelaksanaan operasional pengamanan cukup berat di Aceh. Dia menghadapi situasi yang pelik mulai dari era konfik hingga pasca perjanjian damai.

“Operasi DOM, Pasca DOM dan Jeda kemanusian merupakan yang paling sulit yang pernah saya lalui karena saya bergerak di bidang logistic. Jadi perjalanan yang saya lalui mulai dari Pantai Barat dan Selatan hingga ke pantai Timur,” ujarnya.

Pengalaman itu sambungnya cukup berarti untuk menjalankan tugas-tugas pengamanan di era damai. Namun, keberadaan Polri saja tak cukup. Ali berharap seluruh elemen masyarakat dapat berpartisipasi dalam menjaga perdamaian yang telah diperoleh.

Secara khusus, Ali berharap kalangan muda dapat mengambil peran lebih. Apalagi tantangan di era konflik dan damai kini sangat berbeda. Para pemuda saat ini dihadapankan dengan persoalan krisis moral sehingga acap kali berjibaku dengan kasus-kasus criminal seperti persoalan Narkoba dan lainnya.

Gubernur Aceh Bantah Adanya Dualisme Kepemimpinan Di Aceh ( Gubernur/Wagub Aceh Vs Wali Nanggroe )


* Bukti dari kemajuan Aceh sekarang, kata Gubernur Zaini, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sudah menyetujui pembentukan Sekretariat Wali Nanggroe. “Untuk membentuk Sekretariat Wali Nanggroe tak ada masalah lagi. Tinggal mengisi orang-orangnya saja,” kata Zaini Abdullah.

BANDA ACEH - Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah menyatakan tidak akan ada dualisme kepemimpinan antara Gubernur dengan Wali Nanggroe di Aceh. Pasal-pasal yang memungkinkan terjadinya dualisme atau tumpang tindih wewenang di dalam Qanun Lembaga Wali Nanggroe sudah dibahas intensif dengan Prof Dr Ryaas Rasyid selaku Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI.

Hal itu diungkapkan Gubernur Zaini dalam acara kupi beungoh (coffee morning) dengan unsur pimpinan Harian Serambi Indonesia di Restoran Pendapa Gubernur Aceh, Senin (28/10) pagi.

Gubernur menyatakan sudah dicapai kemajuan yang cukup berarti dalam pembahasan Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2012 tentang Lembaga Wali Nanggroe oleh Tim Bersama bentukan Pemerintah Aceh dan Kementerian Dalam Negeri. Pembahasan yang dilakukan di Jakarta itu juga melibatkan para dirjen Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men-PAN)